Ciri Ahlussunnah adalah Suka Bershalawat kepada Rasulullah SAW
sebuah hadist dari Al Imam Ali Zainal Abidin Assajjad (cicit Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam). Dalam kitab Atturul Mandud yang ditulis oleh Ibnu Hajar Al Haidamy. dalam hadits tersebut disebutkan bahwa tanda bahwa orang tersebut dari golongan ahlussunnah adalah banyak membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Membaca shalawat ibarat menyibak dimensi ruang dan waktu, menghadirkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam arti luas, seluruh hidup kita berada dalam tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dalam banyak hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap hidup. Maka setiap shalawat yang kita baca, didengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh At Thabrani, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “setiap orang yang bershalawat kepadaku, maka suaranya aku dengar”. Kemudian para sahabat bertanya, “dan apakah hal demikian juga setelah wafatmu?”, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “ iya. Bahkan setelah wafatku. Karena Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan kepada tanah untuk merusak jasad para nabi”. Jangankan tanah, hal apapun yang mengganggu jasadnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tahu. Dikisahkan seorang raja bernama Nuruddin Mahmud bin Zakky yang hidup pada tahun ke 6 hijriyah. Raja ini mendapat julukan “Malikul ‘Adil” raja yang adil karena sangat dekat denmgan rakyat dan beliau rajin membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pada suatu malam, beliau bermimpi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebanyak tiga kali. Dalam mimpi itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta tolong kepada Raja Nuruddin untuk menyelamatkan beliau dari gangguan dua orang asing yang berambut pirang dan berkulit kuning kemerahan. Karena mimpi itu terulang tiga kali, maka seketika Raja bangun dan memanggil perdana menterinya. Kemudian Raja memerintahkan untuk menyiapkan pasukan khusus untuk berangkat ke Madinah. Kekuasaan Raja Nuruddin kala itu meliputi Syiria (sekarang Suriah), Mesir, dan jazirah arab. Pasukan tersebut berangkat ke Madinah dengan membawa perbekalan untuk sedekah kepada masyarakat Madinah. Setelah enam belas hari perjalanan, sampailah rombongan di kota Madinah dan langsung menuju Masjid nabawi untuk ke makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah ziarah makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka gubernur madinah dipanggil dan diperintahkan mencatat semua masyarakat madinah untuk mendapat sedekah dari raja. Beberapa hari raja membagikan sedekah tersebut secara langsung. Setelah selesai maka raja bertanya, “wahai rakyatku, adakah yang belum kebagian sedekah ini?”, masyarakatpun menjawab, “ada wahai raja”. “siapa mereka?” tanya raja Nuruddin. Mereka kembali menjawab, “dua orang yang sangat baik, mereka rajin beribadah, dan suka memberi sedekah kepada kami”. Singkat cerita raja meminta untuk dipertemukan dengan dua orang yang diceritakan tersebut. Setelah bertemu mereka di dekat makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, raja Nuruddin mengamati dengan seksama kedua orang asing tersebut. Dan ternyata benar, dua orang tersebut mirip dengan dua orang yang ada dalam mimpi beliau. Kemudian raja mencecar mereka dengan berbagai macam pertanyaan. Mereka pun akhirnya mengaku bahwa mereka adalah nasrani yang diperintahkan untuk mencuri jasad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan imbalan uang yang sangat besar. Didalam tenda mereka ditemukan kitab-kitab tasawwuf dan raja memerintahkan untuk mengeluarkan kitab tersebut. Benar saja, dibawah tumpukan kitab tersebut, terdapat lubang yang mengarah ke makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka mengaku, setiap kali selesai menggali lubang, tanah hasil galiannya mereka masukkan di tas kulit dan membawanya ke pemakaman Baqi’ seolah mereka berziarah kesana. Ketika ditanya akan melanjutkan atau tidak, mereka menjawab tidak akan melanjutkan penggalian tersebut dengan alasan ketikaKetika ditanya akan melanjutkan atau tidak, mereka menjawab tidak akan melanjutkan penggalian tersebut dengan alasan ketika hampir sampai di makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ada suara petir yang menggelegar yang membuat mereka berdua ketakutan. Akhirnya raja meminta pihak keamanan untuk mengamankan mereka dan menghukum mereka dengan hukuman mati. Setelah itu, raja memerintahkan menteri pertambangan untuk menyiapkan timah. Setelah itu, raja juga memerintahkan untuk menggali sekeliling Masjid Nabawi sampai pada titik keluarnya air dan menutupnya dengan timah yang dilelehkan. Hal tersebut untuk memagari jasad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lebih dari itu, Allah Subhanahu Wata’ala yang menjaga jasad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari tangan-tangan kotor yang akan merusak keagungan beliau.
Wallahu A’lamu bishawab
.Rebana high quality
____________________________________________
⚫ Status pesan dulu
⚫ Bahan : Kayu
⚫ Motif : ukir
⚫ produk: Al IKHLAS Jepara
⚫ Sistem pembelian:
1. Cod Galeri Al IKHLAS Jepara👍
2. Transfer➡packing➡kirim(jasa pengiriman)👍
⚫ Info & Pemesanan bisa hub. Via inbok atau via wa/sms/call
Admin 1.082335550715
2. 0816221139
Terima kasih
SyiBro Malisi Jafary
Blog:
Https://kreasirebanajepara.blogspot.com
Kreasi Pengrajin Rebana Al-Ikhlas
Jepara Jawa Tengah Indonesia
#pengrajinrebana #hadroh #syechermania #ajib #rebana #habib #sholawat #kreasi

Komentar
Posting Komentar